Demi Mendapatkan BBM Warga Saumlaki Antrian Panjang di SPBU
pada tanggal
06 Mei 2022
SAUMLAKI, LELEMUKU.COM - Beberapa pekan terakhir, ratusan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat, terlihat terus antri berjam-jam demi mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) berjenis Pertalite pada beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada pada beberapa titik di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Provinsi Maluku.
Baca Juga
“Kita lebih memilih antri walau harus berjemur di terik matahari dengan harapan memperoleh jatah Pertalite daripada menggunakan Pertamax. Kita yang tergolong ekonomi lemah, tidak mungkin mengisi bahan bakar jenis Pertamax,” kata Rudy.
Dirinya juga mengakui jika sekalipun Pertamax tergolong mahal namun sering juga digunakan oleh para pengendara motor lantaran sangat terdesak dan lebih memilih tidak menunggu antrian panjang yang cukup menyita waktu, sehingga lebih baik memilih untuk rela membeli Pertamax.
Meski begitu, jumlah pengguna BBM jenis Pertamax ini juga volumenya yang disediakan sangatlah sedikit, sehingga para petugas di SPBU juga harus menyiapkan tenaga extra, guna melayani antrian panjang setiap harinya.
Ada pula masyarakat lainnya, Haryo (28) yang sempat mengeluh saat menunggu antrian. Saat ditanya tentang alasan dirinya mengeluh, ia menjawab bahwa ternyata antrian panjang tersebut juga disebabkan karena ulah para pengecer BBM jenis Pertalite yang secara diam-diam bolak-balik untuk berusaha membeli Pertalite. Menurutnya, jika diamati secara teliti, orang-orang yang mengantri itu kebanyakan sudah melakukan antrian dalam sehari, berulang-ulang, yang tujuannya adalah mengisi tangki kendaraan dengan penuh, dan kemudian mengeluarkan isinya di rumah untuk dijual secara eceran, dan orang tersebut kembali mengantri lagi, dan seterusnya secara berulang kali.
Perilaku itu menurut dia, rela dilakukan demi meraup keuntungan dengan menjual Pertalite secara eceran di jalanan. Apalagi harga eceran juga telah melonjak, yang semulanya adalah per 1 liter Rp10 ribu, kini naik menjadi Rp12 ribu, bahkan hingga Rp15 ribu per liternya.
“Pantas saja antrian dari hari ke hari yang saya lihat, semakin panjang. Ternyata ada oknum-oknum pengecer yang memanfaatkan kenaikan harga BBM ini untuk meraup keuntungan dengan cara menjual secara eceran di jalan. Banyak orang juga lebih memilih membeli di pedagang BBM eceran, daripada harus mengantri berjam-jam lamanya,” ungkapnya ketus. (indonesiatimur.co)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com selain "" di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.